2009-10-15

Mortgage for Wealth

The economic recession is near the end. YIPPIE!! Why I say near? Because almost all economic indicators show significant improvement, just waiting for labor data getting better and ready back to business. A lot of experts say we are nearly reaching the bottom of recession, even some say we are at the bottom of recession. According to economic cycle, the next cycle is recovery.

So, have you prepared yourself for the recovery? What should you do? Well, one thing I can say is take the advantages of current lower interest. Use it to invest in property. Taking a credit form mortgage company is a good idea. Credit? If you have a lot of saving, buying property in cash maybe is not a problem. But, you can still use mortgage for financing your property and you can use the amount left over for others, double advantages. If you don’t have enough cash but your income is sufficient to pay the installment regularly, you also can take the mortgage.

The initial preparation that you should prepare is money for down payment; the rest of it is taken care by Mortgage Company. Next thing you should prepare is manage your income to pay the installment. In planning installment payment, you can bargain the interest rate and the term. Moreover you can choose the type of interest rate, whether it is fixed or adjustable. So, contact your bank or mortgage broker now and enjoy
the economic recovery increasing your wealth.

Read More ..

Ketika Menteri Berfoto

Foto ini ada di koran Kompas tanggal 15/10/2009, halaman 17. Di sana ditulis rakor terakhir menteri perekonomian. Niat awal kayaknya berfoto sambil pegangan tangan saling silang, kesannya akrab.



Tapi apa lacur, kok Menkominfo dan Menteri pertanian emoh bergandengan tangan (liat yang dilingkari).

Kenapa mereka tidak mau bergandengan tangan?
a. Musuhan
b. Takut dikira gay
c. Pengen keliatan cool
d. Abis cebok lupa cuci tangan
e. Semua jawaban benar
(Beri tanda silang pada jawaban yang menurut Anda paling tepat)


-fin-

Read More ..

2009-10-13

Penipuan Konsumen

Suatu hari sabtu yang cerah, saatnya telah tiba membawa kuda besi kesayangan ke bengkel untuk dikasih rumput besi.

Kuda besi akhirnya diservis. Belum sempat sarapan dari rumah, agak lemes. Cari makan dulu sambil nunggu servis selesai. Ga ada yang jualan di sekitar bengkel. Weits, ada minimarket. Kepikiran beli kue/roti/biskuit. Beli yang murah aja, takut nanti ga bisa bayar servis kuda besi. Cari yang ada coklatnya, biar dapet kalori tinggi, murah meriah.

Begitu bungkus biskuit dibuka, loh mana coklatnya????


Kacau, ketipu sama bungkus biskuit. Untung lagi laper dan lemes.


-fin-

Read More ..

2009-10-05

Pendidikan Gratis

Setelah sebelumnya bikin tulisan tentang beberapa iklan yang dikeluarkan pemerintah, sekarang bikin lagi, part deux, tapi hanya membahas pendidikan gratis.

Depdiknas sepertinya kesal sama kritikan-kritikan yang masuk tentang pendidikan dasar gratis. Banyak kritik yang terdengar di khalayak umum bahwa pendidikan belum gratis, masih banyak pungutan-pungutan dan sumbangan-sumbangan. Sampe-sampe Mario Teguh kukuh berlapis baja ungkapin perasaan ga senengnya sama iklan pendidikan gratis, "Cabut iklan itu! Saya sedang tidak bercanda."

So, apa yang dilakukan depdiknas? Bikin iklan versi baru, yang isinya pembelaan terhadap semua pungutan dan sumbangan dengan tambahan embel-embel sukarela demi kepentingan bersama. Bujug dah Pak Menteri, ora mudeng. Bilangnya pendidikan gratis, tapi ada sumbangan dan pungutan, ya jadinya ga gratis. Kalau dibilang pendidikan gratis, dibayangan orang-orang secara umum berarti tinggal pengeluaran untuk ongkos tranportasi dan uang makan anak aja dong yang ditanggung orang tua. Lagian kenyataan di lapangan ga tuh. Sumbangan dan pungutan ga ada yang sukarela, tapi adanya dukarela alias WAJIB. Kalau ga bayar ya ga boleh sekolah. Beberapa kasus pernah masuk berita di tipi. Pas udah masuk tipi, langsung kepala sekolahnya ngeles, "ga bener itu buktinya anaknya udah sekolah." Malu sih, udah masuk tipi kasusnya.

Pak Menteri, ga usah malu kalau emang belum bisa kasih pendidikan gratis, tapi usahain pendidikan murah aja. Kan lebih realistis dan masyarakat juga lebih bisa terima. Mudah-mudahan penambahan anggaran pendidikan dari 201T jadi 209T bisa Meringankan beban biaya pendidikan. Jangan dipolitisir ya oom menteri, karena tetep aja 20% dari APBN dan itu wajib hukumnya menurut UUD'45.

Hari gini nyari yang gratis-gratis susah, boong semua. Dari provider telepon seluler sampai depdiknas, tuti (tukang tipu).


-fin-

Read More ..

2009-10-02

Berita dan Musik Latar

Orang Indonesia katanya (ga tau kata siapa) melankolis, mudah terbawa suasana, kurang objektif lebih memakai perasaan. Kayaknya itu dipahamin juga sama produser-produser. Mulai dari produser lagu, produser sinetron, sampai produser berita.

Permasalahan dipersempit untuk produser berita aja. Baru sadar waktu lagi nonton berita siang tentang gempa Sumbar. Jadi biar dapat berita yang update, sering ganti-ganti channel. Timbullah kesadaran, kenapa beritanya ada musik latar di setiap channel berita? Musiknya sendu, mengharu biru.

Ingat-ingat lagi (tapi tidak lupa-lupa ingat), waktu kejadian penggrebakan teroris. Ada musiknya juga, musiknya yang bikin suasana tegang, JRENG..JRENG...

Dulu waktu kejadian WTC 9/11 dan tsunami Aceh, pernah nonton berita luar CNN dan CNBC, ga ada musik latar. Kalo berita luar biasanya ada musik latar untuk informasi ringan.

Kenapa ya di sini harus pakai musik latar? Biar meriah suasananya? Atau seperti kata Efek Rumah Kaca, "...kita memang benar-benar melayu suka mendayu-dayu..."

Buat masyarakat Sumbar, Bengkulu, Filipina, Samoa moga-moga cepat teratasi masalah-masalahnya.

-fin-

Read More ..