Showing posts with label catatan pinggir GM. Show all posts
Showing posts with label catatan pinggir GM. Show all posts

2010-02-13

Seperti Halnya Tukang Roti

Orang Yahudi sama perlunya bagi kita, seperti halnya tukang roti.

Kata-kata itu berasal dari tahun 1519. Yang mengucapkannya seorang bangsawan Venesia, Marin Sanudo. Ia tampaknya mengakui suatu kenyataan — suatu yang juga dikisahkan Shakespeare dalam lakonnya yang kita kenal: orang Yahudi adalah tempat orang "pribumi" meminjam uang. Dan meminjam uang, biarpun dengan bunga, itu sesuatu yang kian tak terelakkan.

Sebermula, kata orang, adalah Kitab Suci. Buku kelima dari Pentateuchum memang mengamanatkan kepada bangsa Yahudi bahwa kepada seorang saudara mereka tak boleh meminjamkan apa pun dengan riba. Tapi kepada orang asing riba diizinkan. Soalnya kemudian: siapa yang bisa dianggap saudara, dan siapa orang asing?

Bagi orang Yahudi, garis pemisah itu jelas. Tinggal sebagai minoritas yang beberapa kali diancam kekerasan orang sekitarnya, mereka memandang setiap orang Eropa Kristen, tetangga yang banyak itu, sebagai asing. Dengan kata lain: kepada mereka itu orang Yahudi merasa halal memungut bunga. Lewat proses inilah akumulasi modal terjadi. Mereka memperoleh monopoli sebagai bankir, biarpun dengan bank yang tetap bernama "pribumi".

Sebaliknya bagi orang Eropa Kristen — yang juga harus menaati Perjanjian Lama. Bagi mereka, batas antara orang asing dan saudara tak pernah jelas benar. Gereja Kristen mengumandangkan tiap manusia adalah saudara, dan itu berarti riba tertutup rapat ke mana pun arahnya. Mereka memang perlahan-lahan kemudian mengikuti keniscayaan ekonomi, menyusul orang Yahudi yang telah berada jauh di depan....

Tapi hanya itukah sebabnya?

Nasib manusia tampaknya tidak pernah ditentukan oleh sebab yang tunggal. Minoritas Yahudi menjadi demikian penting kekuasaan ekonominya, dan di Jerman orang bicara tentang Hofjuden — orang-orang "Yahudi Istana" yang melicinkan jalan keuangan para pangeran — tapi mereka bukan satu-satunya yang beruntung dalam kekayaan. Pentateuchum toh tak berlaku bagi orang lain yang kebetulan jadi minoritas.

Minoritas, dalam sejarah ekonomi, lazimnya adalah sekelompok kecil pendatang yang memasuki wilayah orang lain dan tinggal di sana. Biasanya, suatu mekanisme sosial mendorong mereka ke pekerjaan yang perlu tapi kurang enak — misalnya meminjamkan uang dan terpaksa memungut riba, urusan yang "nista" itu. Dalam kondisi seperti itu pula mereka biasanya berkumpul, dalam kelompok sendiri, bantu-membantu, terutama bila risiko demikian besar.

Salah satu risiko besar ialah ketika mereka menjalankan suatu pekerjaan yang sulit, tapi cuma mereka yang biasanya mampu: berdagang jarak jauh. Hidup di negeri yang lain dari tanah kelahiran sendiri, mereka mengenal dua dunia — atau dua macam pasar. Pengenalan ini menyebabkan mereka yang paling siap jadi penghubung antara pasar tempat barang ditawarkan dan pasar tempat barang diminta. Apalagi pada masa lalu, jarak antara supply dan demand itu amat jauh.

Tapi dengan jarak seperti itu seorang pedagang bisa bermain dengan angka-angka yang fantastis, karena si pembeli tak tahu benar berapa harga pokok sebenarnya. Perdagangan jarak jauh ini oleh orang Jerman bahkan disebut seakan-akan kategori tersendiri, Fernhandel, mungkin karena ia merupakan lalu betas barang mewah yang tak mudah didapat: sutera Cina atau cengkih Maluku. Inilah bisnis besar yang sebenarnya, kata Sejarawan Fernand Braudel. Dalam jilid kedua karya besarnya tentang kapitalisme, The Wheels of Commerce, ia punya bab khusus tentang itu.

Tak heran bila ada sebuah sumber Cina pada tahun 1618 yang mengatakan, "Karena Sumatera terletak sangat jauh, siapa pun yang pergi ke sana untuk mencari keuntungan berlipat ganda." Tak heran bila para saudagar dari sana, yang tak banyak bisa berrgerak di negerinya sendiri yang dikuasai kaum Mandarin anti-pedagang, pada berangkat menempuh ombak. Keturunannva beratus-ratus tahun kemudian berdiam di sini. Mereka tak membaca Pentateuchum, mereka bukan orang Yahudi. Tapi mereka pun, yang berkali-kali terlibat dalam peristiwa tak enak dengan orang "pribumi", ternyata selalu diperlukan. Seperti tukang roti.

31 Maret 1984

Di ambil dari catatan pinggir 2

Selamat Tahun Baru Imlek


-fin-

Read More ..

2009-11-30

Seks

Pengetahuan saya yang pertama tentang seks bermula dengan cerita Ajisaka. Waktu itu umur saya 10 tahun. Sambil berbaring di balai-balai kayu jati tua yang sejuk, dengan asyik saya baca legenda orang Hindu yang memperkenalkan huruf ha-na-ca-ra-ka kepada orang Jawa itu.

Alkisah, suatu hari Ajisaka mampir ke sebuah rumah. Di rumah itu tinggal seorang janda. Sewaktu Ajisaka masuk, mbok rondho tengah menumbuk padi. Dalam ketekunan kerja, kainnya tersingkap di bagian paha. Melihat ini, mani Ajisaka mendadak tumpah. Seekor ayam betina yang ada di situ kemudian mematuk cairan itu, lalu ....

Ada yang tak saya pahami dalam cerita yang dimuat dalam majalah Panjebar Semangat yang berbahasa Jawa itu. "Apa itu mani?" tanya saya kepada seorang sepupu yang kebetulan lewat. Sang sepupu terhenti sejenak. Ia menengok ke kiri ke kanan lalu mendekat sambil berbisik-bisik menjelaskan — dengan diiringi isyarat gerak tangan yang tak seluruhnya saya pahami.

Toh sejak itu, pengetahuan saya tentang seks bertambah. Dari kisah Ajisaka, sumber informasi meluas ke banyak penjuru. Waktu itu memang tak ada cerita-cerita pornografis yang distensil, seperti yang kini diperjualbelikan di Jakarta secara sembunyi-sembunyi. Tapi ada saja yang bisa merangsang dan mengejutkan.

Pada suatu hari, bersama seorang kawan, saya memasuki sebuah gedung tua tak berapa jauh dari sekolah. Gedung itu bekas asrama sepasukan prajurit KNIL yang baru saja meninggalkan kota kami, entah ke mana. Seluruh ruangannya kosong. Gentingnya telah banyak yang pecah dan hilang. Dari sela-sela atap itu, cahaya pun masuk dan menerangi dinding-dinding kamar. Di sana, bagaikan sederet mural yang kasar, terpampang corat-coret arang yang belum pernah saya lihat seumur hidup saya yang 11 tahun itu: adegan cabul, kata-kata seru, dan mungkin juga kesepian. Pendeknya, seorang prajurit telah menumpahkan seluruh fantasinya.

Pengetahuan seks, dan rangsangan yang terbit karena hal itu, tampaknya memang bisa datang, memergoki kita, dari mana saja. Ia bisa masuk dari bisik-bisik teman, yang semalam mengintip tayuban di rumah mantri polisi. Ia bisa datang dari dongeng yang pada dasarnya malah tak ingin merusakkan akhlak: adegan Panji yang bercinta dengan para putri di tepi kolam; cerita berahi Batara Guru di dekat Dewi Uma; Kisah Daud yang menginginkan Bathseba dalam Injil.

Informasi seks, dan segala daya tarikannya, juga bahkan bisa didapat dari forum yang sangat sehat. Di kelas III SMP dulu, misalnya, suatu ketika guru agama kami mencoba menjelaskan apa perlunya mandi junub. Untuk itu ia terpaksa menyilakan para murid putri meninggalkan kelas sebentar — lalu secara kilat memberikan sejenis pendidikan seks. Apa yang diberikannya kelak kemudian ternyata sangat berguna, tapi waktu itu kami mendengarkan dengan cekikikan, setengah malu, setengah berdebar-debar.
Anak-anak, apa boleh buat, punya rasa ingin tahu. Mereka juga punya berahi sendiri. Dari sugesti erotis dalam pelajaran tentang setengah mandi junub, dari kisah Kudawanengpati atau adegan cinta Dewi Kunti, jalan pun terbentang ke mana saja: bisa ke majalah Penthouse, atau film biru pada video, atau novel murah yang dijual di hotel-hotel buat para pejalan yang kesepian.

Tapi mungkin juga akhirnya tak separah itu. Bukankah manusia tak seluruhnya jadi cabul, meskipun ekspresi pengalaman seksual bahkan sudah ada dalam lukisan Zaman Batu?

Sebab, sementara mereka menemukan yang jorok-jorok, mereka juga belajar hal-hal lain. Ada memang anak (setidaknya begitulah menurut berita) yang memperkosa sehabis ia menonton film yang merangsang syahwat. Tapi lebih banyak lagi anak yang membaca cerita seks stensilan, ternyata, kemudian tumbuh jadi orang baik-baik menurut ukuran normal. Berapa cerita porno yang pernah Anda serap? Dan blue film? Bahkan yang lebih seram dari itu? Mungkin Anda sendiri lupa. Saya juga lupa. Tapi seperti halnya Anda, para pembaca, saya merasa diri tak jadi bejat. Berdosa, memang, tapi bejat betul barangkali belum.

Dan itulah yang terpikir sering kali sebelum tidur. Bahwa dosa — suatu pelanggaran terhadap hubungan dan janji kita dengan Tuhan — sering tak bisa begitu saja diterjemahkan sebagai rusaknya hubungan sehari-hari dengan orang lain. Kita punya kemungkinan untuk mencegah dan memperbaiki kerusakan yang satu ini, tapi tentang dosa, kapasitas kita agaknya lebih terbatas.
Kita tak mudah menyucikan dan menyelamatkan tetangga-tetangga kita.

Mungkin kita akan mengalami frustrasi karena itu. Tapi barangkali juga tak perlu: kalau kita percaya, bahwa kita sendiri tak jadi jebol hanya karena sejumlah cerita bobrok, kita mungkin bisa percaya bahwa orang lain akan demikian pula. Termasuk anak-anak kita. Termasuk anak-anak saudara kita.

20 Oktober 1984

Di ambil dari catatan pinggir 2
Memperingati hari AIDS sedunia, 1 Desember.

-fin-

Read More ..

2009-11-25

Catatan Pinggir 2; Goenawab Mohamad


Ini adalah sebuah judul buku berisi tulisan-tulisan Goenawan Mohamad di majalah TEMPO dari tahun 1981-1985. Buku ini berisi pandangan-pandangan, ada juga satire mulai dari birokrasi, ideologi, kebudayaan, moralitas, dan lain-lain. Sekarang Goenawan Mohamad masih menulis di TEMPO online, masih membahas hal-hal seperti ini, nama rubriknya caping. Mungkin akronim dari catatan pinggir. I dunno.

Buku ini gw dapat dengan cara yang tidak halal, ngembat dari perpustakaan salah satu organisasi di kampus. Dulu di salah satu organisasi di kampus gw pernah ikutin, gw jadi ketua seksi perpustakaan. Buku ini gw ambil bukan buat nambah koleksi perpustakaan organisasi yang gw ikutin, tapi buat koleksi pribadi. Walaupun ga tau bakal gw baca atau ga.

Alasan gw curi buku ini seperti kata bang napi, kejahatan terjadi bukan karena ada niat tetapi juga karena ada kesempatan. WASPADALAH!! Jadi karena perpustakaan organisasi lain tidak dijaga dengan apik dan ada kesempatan maka terjadilah kejahatan tersebut.

Buku ini gw ambil udah lama, sekitar tahun 2005 kayaknya. Tapi baru gw baca November 2009. Ternyata isinya bagus, ga berat dan ngajak sedikit mikir.

Nanti ada beberapa dari isi buku ini mau gw posting. Oom Goenawan jangan marah ya. Buat yang bukunya gw embat, mohon maaf lahir batin.


-fin-

Read More ..